| Home |
| Profil (2) |
| Gallery |
| Blog (17) |
| Perpustakaan |
| Berita (58) |
| Blog Dosen (4) |
| Situs Referensi |
| Kolomnis (1) |
| Video (2) |
| Map STMIK Raharja |
| Java Script (1) |






![]() | Hari ini | 18 |
![]() | Kemarin | 15 |
![]() | Minggu ini | 151 |
![]() | Bulan Ini | 663 |
![]() | All | 4721 |
| Delapan Film Indie Bersaing di "LA Lights Indie Movie" | |||
|
|
|
|
|
23 Juli, 2007 - 12:55 :: fajar :: Kliping Berita Perfilman Delapan film indie yang dibuat oleh sineas asal Kota Bandung akan bersaing dengan film yang dihasilkan dari para sineas asal Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya untuk memperebutkan penghargaan “LA Lights Indie Movie.” Marketing Sales Officer PT Djarum Bandung, Sigit Diposaputra saat acara “Film Gue,Cara Gue” di Bandung, Sabtu menilai ajang festival ruang kreasi bagi para pembuat film ini dilakukan untuk menjaring para pembuat film indie yang berkualitas. Sekitar 136 peserta yang mengikuti workshop tekhnik yang disampaikan oleh sutradara Garin Nugroho, Monty Tiwa, dan sutradara film dari Fhilifina, John Tores mendapat suntikan ilmu dari para nara sumber. Film yang telah dibuat peserta akan dinilai dilakukan seusai workshop yang dilakukan secara roadshow di empat kota tempat penyelenggaran acara ini. Ketika ditanyakan alasan LA Lights mensponsori kegiatan ini, Sigit mengatakan ekspresi yang disuguhkan para pembuat film indie ini sangat unik sehingga pihaknya ingin mendorong kebebasan berekspresi tersebut. “Kami telah berkeliling ke beberapa daerah di Indonesia dan ternyata komunitas pembuat film indie sudah banyak ditemukan sehingga saya berharap acara ini akan memacu kreativitas berfilm mereka,” ujarnya. Dalam acara tersebut, Garin mengingatkan kepada para peserta untuk selalu mempunyai ide-ide yang “original” dan bukan berlaku seperti peniru. “Dalam ajang festival internasional ide-ide yang mengusung nilai kebangsaan akan lebih dihargai dan dicari ketimbang ide yang hanya mengikuti,” ujarnya. Sementara itu salah satu peserta, Dina mengatakan keunikan seorang pembuat film adalah adanya kebebasan pengekspresian diri yang lebih luas. “Jika dibandingkan dengan pemain, kami akan lebih banyak ruang,” ujarnya. “Kita tidak akan dapat didikte oleh siapapun termasuk produser,” tuturnya yang menjadi anggota dalam sebuah komunitas pembuat film indie di Bandung. Penilaian dalam festival ini tidak hanya berdasarkan tema atau ide cerita yang asli tetapi juga memperhatikan tehnik pembuatan yang dilakukan saat pembuatan film tersebut. (erl) |
|||
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|